PEPAYA BELAKANG RUMAH
Pepaya...,
Kata ini ditelingaku sudah tak asing.
Walau kini mungkin jadi sebuah kenangan.
Karena kalau mendengar pepaya saya ingat masa kecil.
Masa indah ketika masih bersama kedua orangtua.
Kini keduanya telah tiada, meninggalkan kenangan indah dalam hidup.
Alfatihah..
Buat emak buat oyoh ..
Panggilan sayang saya ke mereka.
Bapak ( oyoh ) adalah sosok bapak yang tak mau diam, ketika ada waktu kosong beliau isi waktunya dengan berbagai kegiatan, merakit sound system', merakit tape dan radio dan rajin berkebun pula.
Sekitar rumah, bapak tanami berbagai pohon, depan rumah ada pohon rambutan yang kalau setiap panen, para tetangga ramai ikut memanen bersama.Bapak tanam pula jambu Bangkok yang di beli di pameran pembangunan dari stand pertanian.
Samping rumah juga tak lepas dari tangannya. Di tanamnya jambu batu biasa, jadi kalau dilihat dari luar, pagar rumahku adalah pohon jambu batu.
Nah, lalu dimana _si pepaya_ ???
Ternyata, bapak menanam pepaya di belakang rumah . Ada tiga pohon dibelakang rumah. Lumayan sudah pada tinggi.
Pepaya ini kalau berbuah kadang suka di dahului di santap _codot_.
kadang kurang terkontrol karena letaknya di belakang.
Kata bapak, pepaya ini tumbuh tidak sengaja'.
Katanya, dulu pas bapak beli pepaya biji nya di lempar ke belakang rumah.
Ternyata tumbuh.
Saya, suka sekali makan pepaya ini.
Karena manis dan dagingnya tebal.
Ada kebiasaan unik kalau saya makan pepaya.
Pepaya yang sudah dipetik dipohon tidak saya belah, tapi saya potong ujungnya.
Bijjnya saya buang keluar, dan dengan menggunakan sendok makan saya kerok daging pepaya itu seperti kalau saya mengerok alpukat.
Bedanya alpukat dikerok dibelah dulu, kalau ini pepayanya tidak di belah.
Itulah sekelumit kisah pepaya dan kenangan indah masa kecilku bersama orang yang tersayang, yang terkasih yang kini kurindu.
Pepaya itu...
Sekarang pun tiada.
*Yedi Junaedi*
Pandeglang-Banten
pepaya penuh kenangan indah. mg ayah bunda pak yedi husnul khatimah
BalasHapusAmiiin... terima kasih pak dail
BalasHapus